Dalam hubungan dengan pertempuran bulan November 1945 di Surabaya yang kemudian melahirkan Hari Pahlawan 10 November, wartawan senior Rosihan Anwar (RA) pada pokoknya menulis beberapa hal berikut di Pikiran Rakyat (PR) 22 Nov 2006.

(1) Ia menyaksikan tokoh pemuda Surabaya Soemarsono dalam Kongres Pemuda di Yogya pada 10 November 1945 naik ke mimbar, memerintahkan delegasi Jawa Timur agar meninggalkan tempat untuk kembali ke front Surabaya. Dikatakan mereka mengepalkan tinju dan berteriak “Merdeka, Bung!” Adegan dilukiskan sebagai dramatis dan mengharukan.

(2) RA pergi ke Surabaya sebagai wartawan yang akan meliput sebagai yang diminta Menteri Penerangan Amir Syarifuddin. Selama tiga hari (11 sd 14 November 1945) berkeliling di Surabaya ia tidak pernah bertemu Soemarsono, “tidak tampak batang hidungnya di Surabaya….. Orang yang paling bersemangat omongannya kadang-kadang pula yang paling cepat menghilang, bilamana keadaan sudah gawat… seperti dalam pertempuran di Surabaya bulan November 1945”.

Catatan Harsutejo

Tahun lalu wartawan senior Rosihan Anwar (RA) telah menyinggung tentang hal di atas dalam tulisannya tentang pertempuran Surabaya 10 November 1945 di Pikiran Rakyat 22 November 2006 yang pada pokoknya menyatakan tokoh pemuda Soemarsono lari dari pertempuran. Soemarsono telah menjawab melalui sejumlah wawancara yang saya lakukan dengan dirinya yang saya tulis di bawah dan dimuat di sejumlah milis.

Mungkin koran PR terlalu tinggi untuk memuat tulisan tandingan itu. Pada 9 November 2007 RA menulis lagi di Kompas yang menyatakan “…selama di Surabaya [11 sampai 14 November 1945] saya tidak pernah melihat Sumarsono dan Boes Effendi…. – mungkin hanya sampai Mojokerto atau tinggal di Malang?”

RA (ada yang menyebut ia berlindung di bawah predikat wartawan senior) tetap nekat menulis Soemarsono tidak berada di Surabaya selama pertempuran 10 November 1945 atau dan hari-hari pertempuran berikutnya karena ia tidak melihatnya, tanpa mempertimbangkan bahan yang disampaikan orang lain dan narasumber yang bersangkutan sendiri. Apakah RA mengira ia mempunyai pengamatan yang dapat meliputi seluruh medan pertempuran Surabaya beserta semua tokohnya ketika itu? Hanya RA yang dapat menjawabnya, meski dia juga mengakui tidak pernah sampai di garis pertempuran, sebutan wartawan perang di jaman revolusi dinamainya sebagai mitos. Tetapi bersama itu ia pun menganggap peran orang lain [Soemarsono] sebagai mitos belaka. Harian Kompas pun terlalu tinggi untuk memuat tulisan tandingan dari orang tak dikenal yang tak punya nilai jual.
Bekasi, 9 November 2007

Wartawan senior ini secara sederhana menyimpulkan bahwa karena dia (RA) tidak bertemu Soemarsono (Sm) selama tiga hari (11 sd. 14 November 1945) di Surabaya, maka dia (Sm) menghilang dari gelanggang pertempuran. Di bawah ini saya sampaikan hasil wawancara saya dengan Pak Soemarsono pada 12 November 2005 di Jakarta, 4 Desember 2005 lewat telepon dari Sydney (jadi jauh sebelum tulisan RA) dan pada 25 November 2006 di Jakarta, ditambah bahan kepustakaan.

Soemarsono Ada Dalam Pertempuran Surabaya November 1945

Soemarsono adalah Ketua PRI (Pemuda Republik Indonesia) yang ia dirikan dan berpusat di Surabaya. Organisasi pemuda ini merupakan yang terbesar ketika itu di Jawa Timur. Menurut Soemarsono ia sampai di Yogya pada 9 November 1945 malam hari. Sebelum mendaftarkan diri ke panitia kongres, dia kembali ke Surabaya bersama Widarta dan yang lain termasuk seorang sopir karena mendengar keadaan genting. Mereka sampai di Surabaya pagi hari sebelum pemboman 10 November 1945. Adapun yang naik ke mimbar pada 10 November 1945 dan memerintahkan delegasi Jatim pulang ke front Surabaya ialah Sdr Muntalib sebagai wakil PRI dan wakil ketua delegasi Jatim yang diketuai oleh Sudisman. “Dengan demikian saya tidak pernah hadir dalam Kongres Pemuda itu. Saya dipilih oleh kongres tanpa kehadiran saya. Sedang saudara Muntalib kemudian gugur dalam pertempuran di Surabaya. Jadi pada 10 November 1945 saya berada di Surabaya”.

“Ketika itu saya bermarkas di Pacarkeling, markas PRI, sebelumnya di Hotel Simpang. Tiap pagi saya keluar dari tempat tersebut bersama Bambang Kaslan dan Supardi sesuai dengan situasi pertempuran. Pihak Inggris memandang pemboman dan penembakan yang dilakukannnya secara membabi buta dari kapal terbang dan kapal laut itu sejak 10 November 1945 pagi sebagai hukuman atau punishment terhadap kita, karena tewasnya Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945”.

Penyobekan Bendera Triwarna

Membicarakan posisi tokoh Soemarsono tak terlepas dari peristiwa tersohor, peristiwa penyobekan bendera Belanda pada 19 September 1945 di atas tiang Hotel Oranje (di jaman Jepang bernama Hotel Yamato), kemudian bernama Hotel Simpang, Surabaya yang terjadi pada 19 September 1945.

Pada masa itu pemuda Soemarsono memimpin Angkatan Muda Minyak (karena dia bekerja di BPM) dan Gabungan Pemuda Kantor yang menghimpun para pemuda kantor pajak, perminyakan, listrik, pos dsb dalam memberikan dukungan terhadap proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dengan antara lain melakukan aksi corat coret di seluruh kota Surabaya.

Pada 19 September 1945 pagi hari, sejumlah pimpinan Angkatan Muda Minyak sebanyak 6 sampai 7 orang sudah berkumpul di rumah Soemarsono di Paneleh Gang VI. “Pagi itu kami memperoleh berita bahwa di Hotel Oranje di Tunjungan telah dikibarkan bendera Belanda merah-putih-biru. Ini sungguh berita yang menghebohkan yang sangat menganggu kebanggaan kami sebagai bangsa merdeka. Hal ini kami pandang sebagai tantangan, seolah-olah Surabaya ini ada di bawah kekuasaan Merah-Putih-Biru. Kami sepakat untuk mendatangi dan menurunkannya”.Para pemuda itu keluar rumah dan mulai meneriakkan berita tersebut. “Bendera merah-putih-biru telah dikibarkan di Tunjungan!!” Sesampai di tempat mereka terdiri kira-kira 40 pemuda menuju ke depan Hotel Oranje dengan berteriak-teriak, “Turunkan bendera itu, turunkan bendera itu!” Di hotel tersebut nampak banyak orang asing termasuk para perwira Inggris. “Ketika itu saya bersama Ruslan Wijayasastra, wakil saya dalam Angkatan Muda Minyak berteriak, ‘Keep down the flag, keep down the flag, put down the flag!’ Teriakan itu sama sekali tidak diindahkan. Waktu berjalan terus, kian banyak pemuda dan rakyat berkumpul. Ketika itu kami terdiri dari ratusan pemuda dan terus-menerus bertambah jumlahnya.”

Dari dalam hotel keluar seorang kulit putih tinggi besar seperti raksasa, Mr Ploegman, seorang bokser. Orang Belanda ini dikenal telah diangkat sebagai Walikota Surabaya oleh Nica. Dia membawa sepotong kayu besar yang kemudian diobat-abitkan ke arah para pemuda bagaikan seorang Samson sambil memaki-maki secara kasar. Para pemuda yang beranjak mundur kemudian maju kembali dengan lebih siap untuk berlawan sambil terus berteriak, “Turunkan bendera!”. Ploegman keluar lagi dengan batang kayunya. “Pada saat itu saya lihat seorang pemuda mendekati dirinya tanpa ia ketahui dan menusukkan pisaunya bertubi-tubi. Ploegman jatuh bercucuran darah dan tewas. Pada saat itu teriakan untuk menurunkan bendera kian membahana. Sejumlah pemuda telah membawa tangga untuk naik ke atap hotel, terdapat 8 sampai 10 pemuda. Dari atap ada yang naik ke tiang bendera dalam gemuruh teriakan, lalu bagian biru bendera itu pun dirobek, dan jadilah kini Sang Merah Putih yang berkibaran di angkasa…… kami bertepuk tangan bergembira ria berteriak-teriak”. Ketika itu massa rakyat sudah mencapai ribuan orang. Kemudian terjadi juga tembakan dari dalam hotel yang menyebabkan korban di pihak rakyat, akan tetapi hal itu boleh dibilang seperti tidak dihiraukan lagi saking semangat mereka sudah seperti kesetanan.”

Pertempuran Tiga Hari

Pertempuran melawan tentara Inggris pecah karena mereka telah melanggar kesepakatan untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Republik Indonesia. Tentara Inggris telah menyita senjata yang dibawa laskar rakyat, sedangkan senjata itu telah direbut dengan susah payah dari tentara Jepang untuk mempertahankan kemerdekaan. Pertempuran berlangsung selama tiga hari sejak 28 Oktober 1945. Tentara Inggris yang lengkap senjatanya itu kewalahan dengan kepungan laskar rakyat terhadap markas-markas mereka di antaranya dilakukan oleh PRI di bawah pimpinan Soemarsono. Rakyat telah memutus pasokan listrik dan air serta logistik lewat darat ke tempat-tempat tentara Inggris bermarkas. Maka tak ada jalan lain kecuali mereka meminta bantuan pucuk pimpinannya untuk meminta pemimpin RI turun tangan.

Maka Presiden Sukarno, Wakil Presiden Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin bersama petinggi tentara Inggris datang ke Surabaya untuk memerintahkan penghentian pertempuran.

“Di Jl Ngagel pada 29 Oktober 1945 saya menghadangkan tangan menghentikan konvoi mobil yang di dalamnya ada Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Amir. Setelah berhenti maka saya menyatakan dengan marah: ‘Kami yang memimpin pertempuran ini, Inggris sudah dalam keadaan terdesak, kenapa para pemimpin tidak berunding lebih dulu dengan kami para pemuda yang bertempur yang sedang di atas angin, Inggris sudah kepepet dan dalam waktu singkat dapat menyerah. Kenapa pertempuran begitu saja dihentikan?’ Ketika itu Inggris sudah sangat terdesak. Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta diam, rupanya mereka membenarkan apa yang saya katakan. Bung Karno menjawil Bung Amir, bung Amir turun dari mobil, saya dirangkul olehnya yang sudah saya kenal sejak Gerindo di Gang Kenari, Jakarta. Bung Amir membisiki saya: ‘Ini sudah didiskusikan di Jakarta oleh organisasi. Lebih baik memenangkan tujuan pertempuran daripada sekedar memenangkan pertempuran. Jika kalian mematuhi perintah Presiden RI maka tujuan politik kita diuntungkan, kalian patuh pada otoritas RI.’ Pendeknya secara politik ditaatinya perintah gencatan senjata menguntungkan bagi diplomasi dan politik nasional maupun internasional RI, menunjukkan adanya eksistensi RI dan Pemerintah RI. Yang semula saya marah-marah terhadap mereka kini mengerti dan tunduk pada perintah, saya ikut naik mobil menuju ke Jalan Mawar ke studio radio yang dipimpin Bung Tomo dan ikut berpidato menyerukan dihentikannya pertempuran sebagaimana juga yang diserukan oleh Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Amir”.

Dalam buku Ruslan Abdulgani 100 Hari di Surabaya (1975), nama Soemarsono tercantum sebagai salah satu anggota perunding tingkat tinggi pihak RI pada 30 Oktober 1945.

Adakah pemuda Soemarsono yang baru saja melewati gejolak semangat pemuda dan memimpin pertempuran melawan Inggris serta sempat marah-marah kepada para pemimpin RI karena perintah penghentian pertempuran, kemudian dengan mudahnya “cepat menghilang karena keadaan gawat”? Di hari tuanya Soemarsono yang kini 86 tahun itu masih nampak gagah dengan pikiraan jernih, bicaranya menggelegar dengan daya ingat yang cukup bagus bagi usianya. Dia bermukim di Sydney bersama keluarga salah seorang anaknya.